AMBON — Suport untuk Palestina oleh Dompet Dhuafa Maluku terus digencarkan. Dompet Dhuafa Maluku mengemas Event kali ini dengan beragam aktivitas keren dan inspiratif, mulai dari Aksi Bela Palestina, Lomba Mewarnai, Tenant UMKM, Pameran Palestina serta Talkshow Kepalestinaan.
Festival Al-Quds yang digelar selama satu hari full pada (26/10/2025) , hadir sebagai bentuk kegiatan penguatan spiritual dan kemanusiaan kepada Masyarakat kota Ambon untuk tetap mendukung dan bersuara untuk Palestina. Kegiatan ini dirancang untuk menjadi platform kolaborasi antarpelaku usaha UMKM, komunitas kemanusiaan, dan masyarakat, sekaligus menjadi sarana edukasi Kepalestinaan, Suport, juga spiritualitas.
Mengusung tema “Gelombang Solidaritas : Dari Sumud Palestina ke Flotilla Dunia”, Festival Al-Quds 2025 menghadirkan rangkaian kegiatan seperti : Aksi Bela Palestina, Tenant UMKM, Lomba Mewarnai, Pameran Palestina dan acara puncaknya yaitu Talkshow Kepalestinaan bersama Ustadz Amar R. Ar-Risalah (Dai, Penulis, Konter Kreator) dan Ustadzah Indadari (Aktivis, Relawan Sosial, Founder Niqabsquad Foundation) yang diselenggarakan di Kawasan Masjid Al Fatah Ambon lebih tepatnya Gedung Ashari.
La Januri selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Maluku, menyampaikan bahwa hadirnya Festival Al-Quds ini adalah untuk mengajak komunitas serta Masyarakat untuk tetap bersuara untuk Palestina, sekecil apapun usaha yang kita lakukan.

“Festival Al-Quds 2025 adalah sebuah kegiatan di mana kami ingin mengajak pegiat kemanusiaan di lingkungan Kota Ambon. Mengajak komunitas, dan anak muda untuk bersama-sama bergandengan tangan bukan hanya sebagai muslim, tapi sebagai manusia, yang meyakini bahwa untuk membela Palestina kita tidak harus menjadi muslim tapi cukup menjadi manusia” imbuh Januri.
kegiatan pertama pelaksanaan Festival Al-Quds, berawal sejak pagi hari jam 08.30 AM – 12.00, Aksi Bela Palestina yang dilakukan di Masjid An-Nur Batu Merah (long march) sampai ke Masjid Al Fatah mengajak Masyarakat, mengingatkan mereka bahwa kita tidak boleh berhenti untuk mendukung Palestina, selama mereka belum Merdeka, kita jangan sampai melupakan mereka, apalagi adanya genos*da yang mengakibatkan kelaparan yang berkepanjang hingga hari ini.
Lalu di lanjutkan dengan Lomba Mewarnai dengan tema “Palestina”, berkolaborasi dnegan komunitas kemanusiaan Baik Berisik Maluku dengan maksud untuk menumbuhkan rasa kemanusiaan sejak dini untuk anak-anak, mengenalkan mereka tentang Palestina serta mengajak meraka paham bahwa mendukung Palestina di mulai dari hal kecil sekalipun karen itu sangat berdampak.

Selama festival berlangsung, terdapat UMKM dengan berbagai tenant, mulai dari kuliner hingga multiproduk. Selain tenant, ada juga booth kemanusiaan yang menggambarkan berapa banyak anak-anak yang telah syahid dan gugur sejak di mulainya Genosida hingga hari ini, booth yang di buat oleh komunitas kemanusiaan yang bergerak khusus untuk berisik dan bersuara untuk Palestina yaitu Baik Berisik Maluku.

Dan di lanjutkan dengan malam puncak kegiatan ini, yaitu Talkshow Kemanusiaan, 21.30 – 23.00 sebanyak 232 peserta hadir dan semangat mengikuti talkshow ini. Talkshow menarik mengenai Sejarah Palestina, Membahas Kapal-Kapal Sumud Flotilla, serta bagaimana kondisi Palestina hingga hari ini di paparkan langsung oleh Ustadz Amar R. Ar-Risalah sebagai bagian dari Gelombang Sumud Flotilla perwakilan dari Indonesia serta Ustadzah Indadari yang juga merupakan aktivis social, datang langsung ke Palestina, menyalurkan bantuan, memberikan pelukan hangat, serta menyapa jiwa-jiwa yang sabarnya tanpa batas itu.

“Kekalahan yang diinginkan isra*l bukanlah banyak nyawa yang terbunuh setiap harinya atau bangunan yang runtuh setiap saat, melainkan dengan sangat menginginkan rakyat Palestina meninggalkan tanah air mereka, Maka makna Sumud Palestina Adalah bentuk keteguhan dan paling tabah daalam mempertahankan tanah air.” Ucap Ustadz Amar R. Ar-Risalah.


Tetaplah berisik, sekecil apapun gerakanmu, Allah tetap akan melihat itu sebagai bentuk jihadmu dalam memperjuangankan Palestina.” Jadi layaknya rakyat Palestina yang sabar dalam meneladani nabi Zakariya yang bahkwan mati di gergaj* kaumnya sendiri, mereka mengambil Pelajaran itu untuk tetap sabar, mempertahankan tanah air mereka. Ustadzah Indadari.

Penyunting: Wa Lina
Fotografer: Arman Wally


